Tambang Galian C Yang di Duga Ilegal Hasil Penjualan di Bagi Tiga

Jember, lintasnusantara.net – Fusuhadi selaku orang kepercayaan pengusaha bego dan kasir pertambangan tanah urug dan pasir gumuk di Persil 252 blok D II lingkungan Jambuan kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari mengaku kedatangannya di lokasi tambang atas inisiasi berinisial E, warga Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari.

Menurut keterangan Fusuhadi terkait pendapatan dari hasil pertambangan dibagi tiga bagian, yakni H, E dan S, yang berinisial S selaku ketua Rukun Kematian Masyarakat (RKM) Dusun Jeding Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari.” Ungkapnya Fusuhadi waktu di datangi awak media di rumahnya. Jumat, (02/04/21).

Tambah Fusuhadi, “Dulu memang tidak ada yang berani menambang di lokasi gumuk yang saya tambang kemarin, karena bersengketa. Setelah saya tahu kalau gumuk tersebut hak waris E, berdasar keputusan banding pengadilan, maka saya berani menambang.

Lanjut Fusuhadi, terkait perijinan tambang merupakan tugas bos. “Saya hanya pekerja, untuk harga tanah urug per rit 45 ribu Rupiah dan harga pasir 190 ribu Rupiah,” pungkasnya.

Untuk per satu rit, harga tanah urug 45 ribu, dan harga pasir 190 ribu. Dan kita menyerahkan uang ke perkumpulan kifayah antara Rp150ribu-Rp200ribu perhari tergantung ramainya tiap harinya, kalau operatornya di bayar Rp150ribu, saya sendiri antara Rp709ribu perhari tapi di bayar bos langsung” Jelasnya.

Lihat Video:

Di tempat terpisah, Salam, ketua RKM Dusun Jeding Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari mengaku jika uang pemberian dari tambang pasir ia sebagian di pergunakan untuk perbaikan masjid dan pembelian tanah makam warga.

“Kebetulan kemarin saat RKM akan membeli tanah pemakaman mengalami kekurangan uang, jadi kita bersyukur ada yang membantu,” terangnya, Senin (05/04/2021), di kediamannya.

“Jadi kemarin, tambang membantu membayar sebagian kekurangan pembelian tanah makam sebanyak 5 angsuran, sekitar 5 jutaan. Terkait perijinan tambang saya tidak tahu,” pungkasnya.

Baca Juga:

Sementara pria berinisial E, warga Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari sedang tidak ada di kediamannya, saat awak media akan mengkonfirmasi terkait peranan E dan kebenaran terkait keterlibatannya menerima uang hasil tambang pasir.

“Bapak (maksudnya berinisial E – red) sedang tidak ada, entah keluar kemana,” tutur istri E berinisial R,

“Saya takut memberi nomer telpon, khawatir bapak marah,” pungkasnya.

Berdasar pantauan awak media terkait tambang pasir terindikasi ilegal dan sudah tidak beroperasi. Sementara alat berat pengeruk pasir sudah tidak ada di lokasi tambang. (Sayadi H).