Terkait Postingan Pemdes Seridalam, Warga Tanjung Temiang Resah, Itu Pembohong Publik

Ogan Ilir, lintasnusantara.net – Beredarnya postingan yang disebarkan luaskan oleh akun Facebook milik Pemdes Seri Dalam yang menyebutkan bahwa menindaklanjuti laporan adanya konflik batas antara dua desa yakni desa Seri Dalam dan desa Tanjung Temiang.

Kedua belah pihak yang berkonflik telah melakukan pertemuan dalam rangka mencari fakta dan menggali keterangan saksi-saksi hidup (sesepuh) yang dapat mempertanggungjawabkan tentang histori lokasi yang dimaksudkan.

Merasa gerah dengan statement yang dikemukakan oleh Pemdes Seri Dalam tersebut, membuat Abdul Muis selaku tokoh masyarakat desa Tanjung Temiang sekaligus pihak yang merasa keberatan dengan isi postingan dan kolom komentar yang ada di akun Facebook Pemdes Seri Dalam.

Di dalam postingan tersebut, dikatakan bahwa hari ini, Rabu (13/10/2021) pukul 12.10 WIB unsur Tripika yang terdiri dari Camat Tanjung Raja Lukman Ajis, Kapolsek Tanjung Raja Iptu Joko Edy, Danramil Kapten Teguh Karyadi hadir mendampingi Kades Tanjung Temiang Maslan M. Zen, Kades Seri Dalam Sary Puspita, Ketua BPD dan tokoh adat kedua desa untuk turun langsung ke lokasi konflik.

Pada unggahan itu, Maslan mengatakan bahwa dirinya saya menyayangkan ketidakhadiran satu orangpun dari pihak-pihak yang mempermasalahkan hal ini padahal mereka sudah diundang.

Atas statement yang dikatakan Kades Tanjung Temiang tersebut, Abdul Muis membantahnya. Melalui media ini, Ia dengan tegas menyatakan bahwa mereka sebagai pihak yang keberatan tidak mengetahui pertemuan hari ini lantaran tidak ada pemberitahuan/undangan untuk hadir di pertemuan.

Menurutnya, ada 13 nama termasuk dirinya yang seharusnya ikut hadir dalam acara tersebut namun tidak demikian halnya. “Tidak benar yang dikatakan Kades Maslan bahwa kami sengaja tidak hadir, tapi kami tidak tahu, mungkin memang sengaja tidak diundang agar kami tak ikut hadir di sana”, ungkapnya via telepon seluler, Rabu (13/10) malam.

Lebih lanjut dikatakannya, atas postingan dan statement yang disampaikan, kami mewakili 50 warga yang keberatan dari kedua desa merasa tidak terima dengan penyampaian informasi ini melalui akun FB Pemdes Seri Dalam, ujarnya.

“Kami tidak terima dengan statement mereka ini. Yang datang hari ini hanyalah sebelah pihak saja. Konflik ini belum selesai.

Sesuai kesepakatan perjanjian tahun 2018 menyatakan bahwa aktivitas tambang pasir tidak bisa dilakukan sebelum ada keputusan, kepastian kemufakatan mengenai batas desa diperkuat dengan adanya cap/stempel resmi dari Kades terdahulu. Tapi nyatanya, aktivitas tambang masih tetap dilakukan. Hal inilah yang kami permasalahkan”, terang A. Muis.

Sementara itu, Camat Tanjung Raja Lukman Ajis saat dikonfirmasi via telepon selulernya mengatakan bahwa kedatangan pihaknya ke lokasi tersebut hanyalah sebagai penengah dari kedua belah pihak yang berkonflik.

“Kami datang bersama-sama itu untuk mengetahui permasalahannya, belum ada keputusan, ini masih dalam proses. Catatan yang kami tulis dari pertemuan tersebut akan kami bawa pada pertemuan berikutnya”, kata Camat.

Sedangkan menurut DPRD OI Rojad yang dihubungi via telepon selulernya mengatakan bahwa dalam hal ini dirinya tidak memiliki kepentingan apa-apa, namun ia hanya kasihan memikirkan masyarakat yang tidak mengerti akan hal ini.

“Saya tidak punya kepentingan dalam perkara ini, saya hanya merasa kasihan pada warga yang lemah dan tak mengerti apa-apa ini”, katanya singkat. (Tim Fc)