Menu Tutup

Terungkap,,, pengakuan sopir angkot yang mengangkut pendemo tolak RUU Cipta kerja kalangan pelajar, dibayar mahasiswa.

Posted in Nasional
Ilutrasi angkutan kota yang mengangkut pendemo tolak Omnibus law cipta kerja, dari kalangan pelajar dan mahasiswa. (Photo by @fithaafida)

Lintasnusantara.net, 11/10/20, Tangerang banten.

Pasca ditetapkan Omnibus law RUU Cipta kerja Rabu 7/10/20 di Gedung DPR RI Jakarta, para Buruh dan Mahasiswa menolak keras keputusan yang sudah di sahkan, lalu kemudian melakukan aksi tolak dan cabut keputusan yang sudah di sahkan. Tak puas dengan aksi tanggal 7/10/20, hari berikutnya 8/10/20 mengadakan aksi besar yang berujung rusuh serta pengerusakan fasilitas umum serta tempat lainnya.

Aksi Unjuk rasa (UNRAS) tolak Omnibus law di ikuti tidak hanya dari kalangan Buruh dan Mahasiswa, di antaranya Pelajar yang juga ikut serta dalam Demo tersebut, lantas apa yang memacu kalangan siswa sekolah untuk ikut aksi yang berujung ricuh.

Hasil penelusuran jurnalis Lintas nusantara (LINNUS) ketika bertemu supir angkutan kota (ANGKOT) Kalideres Serpong, pelajar yang ikut serta Unjuk rasa ternyata di bayar, kemudian mirisnya para siswa ini tidak paham maksud serta tujuan aksi, Aceng bukan nama sebenarnya supir angkutan kota menjelaskan,

“Pada waktu kejadian aksi unjuk rasa hari kamis 8/10/20 saya mendapat borongan untuk mengangkut rombongan demo, peserta aksi yang saya antar itu mahasiswa bersama anak pelajar STM, saat itu saya hanya mengantar mereka sampai di JL Daan mogot KM 15, karna sampai disitu sudah macet total, terhalang peserta demo yang ingin menuju ke istana namun di hadang oleh petugas Polisi”

Lanjut aceng menjelaskan bahwa sebelum mahasiswa dan pelajar turun, dia melihat salah satu Mahasiswa kampus di Tangerang membagi – bagikan uang sebesar 50 ribu rupiah kepada pelajar,

“Setelah saya antar di tujuan, sebelum mereka turun, saya lihat ada Mahasiswa yang membagikan uang 50 ribu rupiah kepada Pelajar STM, mereka semua yaitu Mahasiswa dan pelajar berasal dari kampus dan sekolah terkenal di Tangerang” ungkapnya.

Fakta selanjutnya bahwa Pelajar selain di bayar, mereka juga membawa Senjata tajam (SAJAM) jenis Samurai, dan tidak paham apa maksud di adakannya Demo tersebut. Aceng menambahkan,

“Saya menyaksikan sendiri pelajar itu membawa senjata tajam jenis samurai ukuran kecil, di selipkan di pinggang dan kebanyakan mereka hanya ikut – ikutan aja, ngga tau maksud tujuannya, bagi mereka yang penting dibayar” imbuhnya.

Red. Jaks

%d blogger menyukai ini: