Aksi yang melibatkan sekitar 50 warga Desa Matarape yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Matarape ini berlangsung di Pos Security Jetty IUP PT Askon/BKR. Warga memprotes paparan debu tebal dari aktivitas pengangkutan ore yang dinilai telah mencemari pemukiman, merusak tanaman pertanian, dan mengancam kesehatan.
Kronologi Pemalangan Berujung Ricuh
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi bermula sekitar pukul 10.30 Wita. Massa memalang jalan hauling menggunakan dua unit kendaraan roda empat untuk menghalau aktivitas pengangkutan menuju jetty.
Setelah jeda salat Jumat, massa kembali ke lokasi sekitar pukul 12.30 Wita dan mendapati dua mobil yang digunakan untuk memalang jalan telah rusak. Diduga dua mobil tersebut dihantam alat berat ekskavator milik perusahaan.
Situasi pun memanas dan terjadi aksi saling pukul. Dua warga dilaporkan terluka masing-masing bernama Rinto dan Dowir. Dari pihak perusahaan, seorang karyawan bernama Yusuf mengalami luka memar di bagian wajah dan kepala.
Puncaknya terjadi sekitar pukul 13.30 Wita. Massa merusak sejumlah aset perusahaan. Tercatat tiga unit kendaraan operasional LV Hilux rusak berat, sementara tiga unit LV Hilux lainnya, satu unit motor grader, dan satu unit excavator dibakar massa.
Sekitar pukul 15.27 Wita, massa kemudian bergerak menuju kantor PT Askon/BKR dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Tuntutan Warga: Hentikan Hauling dan Bayar Kompensasi
Aksi ini disebut sebagai puncak kekecewaan warga. Sehari sebelumnya, Kamis (1/10/2026), perwakilan Aliansi Masyarakat Matarape telah menyuarakan keluhan tersebut.
“Kehadiran PT ASKON di Matarape diduga menjadi malapetaka, pengrusakan lahan milik masyarakat, debu hauling sampai ke pemukiman,” tegas perwakilan aliansi.
Massa menuntut perusahaan menghentikan seluruh aktivitas hauling hingga ada penanganan nyata berupa penyiraman jalan secara rutin dan kompensasi ganti rugi lahan serta dampak kesehatan yang mereka sebut sebagai "uang debu". Warga menilai manajemen perusahaan bersikap pasif tanpa solusi konkret.
Aksi pada Jumat kemarin dikomandoi langsung oleh Muhlis selaku Koordinator Lapangan (Korlap) dan Rinto sebagai Wakil Koordinator Lapangan.
Polisi Turun Tangan
Kapolres Morowali, AKBP Reza Khomeini, mengatakan pihaknya berupaya mengendalikan situasi secara persuasif namun tegas. Mengingat lokasi site berada di perbatasan, personel Polres Konawe Utara juga turut dilibatkan dalam pengamanan.
“Kami meminta kepada seluruh masyarakat di Desa Matarape agar senantiasa menahan diri, tidak mudah terpancing oleh provokasi, dan menyerahkan sepenuhnya penanganan persoalan ini kepada pihak berwenang,” ujar AKBP Reza Khomeini.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang dapat merugikan masyarakat luas dan melanggar hukum.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen PT ASKON/BKR terkait tuntutan warga dan insiden pengrusakan tersebut. Aparat kepolisian masih bersiaga di sekitar jetty dan kantor perusahaan untuk mencegah bentrokan susulan.



