PANDEGLANG — Persoalan stunting dan gizi buruk di Kabupaten Pandeglang kembali menjadi sorotan. Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A, dengan konsentrasi pada Pemberi Makan Bayi dan Anak (PMBA), mengungkapkan masih menemukan persoalan gizi buruk dan stunting dalam praktiknya di Pandeglang.
Melalui unggahan media sosial, dr. Ian menyampaikan pengalamannya saat menangani pasien di wilayah tersebut.
“Setiap kali saya praktik di Pandeglang itu selalu ketemu gizi buruk dan stunting,” tulis dr. Ian.
Ia kemudian menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut dr. Ian, mayoritas anak di Pandeglang telah mendapatkan MBG. Namun, setelah dirinya menanyakan kepada sejumlah ibu, ia mengaku mendapatkan informasi bahwa makanan yang diberikan tidak selalu dikonsumsi oleh anak.
Dr. Ian pun mempertanyakan sejauh mana program tersebut memberikan dampak terhadap persoalan stunting dan kurang gizi.
“Sudah berapa lama ini MBG berjalan? Katanya fungsinya mengatasi stunting, kok kenyataannya saya pribadi nggak lihat ada perubahan,” tulisnya.
Selain MBG, dr. Ian juga menyinggung ketersediaan susu tinggi kalori gratis yang digunakan dalam penanganan anak dengan masalah gizi.
Ia menyebut stok susu tersebut telah habis dan belum mengetahui kapan akan kembali tersedia.
“Belum lagi bulan ini jatah susu tinggi kalori gratis sudah habis stoknya ya,” tulisnya.
Menurut dr. Ian, kondisi tersebut menjadi persoalan ketika ada pasien yang datang berobat dan membutuhkan susu tersebut.
“Setiap ada yang berobat dan membutuhkan susu, saya cuma bisa bilang, mohon maaf stok susunya sudah habis,” ungkapnya.
Ia mengaku bingung karena stok susu tersebut disebut telah lama habis. Di sisi lain, keluarga pasien berpotensi menghadapi beban tambahan apabila harus membeli sendiri susu dengan harga yang relatif tinggi.
“Kasihan, benar-benar kasihan banget kalau misalkan harus beli susu dengan harga yang cukup tinggi dan mahal,” tulis dr. Ian.
Soroti Data dan Kondisi di Lapangan
Dalam bagian lain unggahannya, dr. Ian juga meminta agar kondisi stunting dan gizi buruk tidak hanya dilihat berdasarkan data, tetapi juga melalui kondisi pasien yang ditangani langsung oleh dokter.
Ia menulis:
“Turun ke lapangan yuk, evaluasi betul2, jgn mudah dibohongi sama data yang entah drmana sumbernya. Tanyakan ke dokter2 yg langsung menangani pasien stunting dan gizi buruk.”
Pernyataan tersebut kemudian mendapat berbagai respons dari pengguna media sosial.
Salah satu akun, @palastriaaa, menanggapi unggahan tersebut dengan komentar yang mempertanyakan laporan mengenai program dan data yang digunakan.
“Percuma dok, laporan yang masuk semua angkanya bohong. Asal bapak senang,” tulis akun tersebut.
Komentar yang sama juga menyampaikan kritik terhadap evaluasi program serta melontarkan tudingan terhadap seorang pejabat. Tudingan tersebut merupakan pernyataan dari komentator dan tidak disertai bukti dalam tangkapan layar yang tersedia.
Komentar tersebut kemudian mendapat balasan singkat dari dr. Ian dengan emoji yang menunjukkan respons terhadap pernyataan tersebut.
Sementara itu, akun lain, @trshoktt_, mempertanyakan kandungan gizi makanan yang diberikan melalui program MBG. Ia menyoroti menu seperti gorengan, bakwan, jagung, dan telur yang menurutnya belum tentu memenuhi kebutuhan gizi anak apabila takaran dan kandungan gizinya tidak memadai.
Akun tersebut juga mengusulkan agar pemenuhan gizi anak dapat dilakukan dengan bahan pangan seperti telur, ikan, buah-buahan, dan bahan makanan lainnya.
Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa unggahan dr. Ian tidak hanya memunculkan pembahasan mengenai stunting dan gizi buruk, tetapi juga membuka diskusi warganet mengenai kualitas menu, pemenuhan kebutuhan gizi, penggunaan data, serta pelaksanaan MBG di lapangan.
Meski demikian, komentar-komentar warganet tersebut merupakan pendapat dan pengalaman masing-masing pengguna media sosial, sehingga tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai fakta mengenai pelaksanaan MBG secara keseluruhan.
Sementara itu, pernyataan dr. Ian sendiri merupakan pengalaman dan pandangannya berdasarkan pasien yang ditemuinya dalam praktik. Klaim mengenai tingginya kasus stunting dan gizi buruk serta dampak MBG secara keseluruhan tetap perlu dibandingkan dengan data resmi dan periode pengukuran yang jelas.
Sorotan tersebut pada akhirnya menempatkan persoalan konsumsi makanan, kecukupan gizi, keberlanjutan intervensi nutrisi, dan kondisi nyata anak di lapangan sebagai bagian penting dalam pembahasan penanganan stunting dan gizi buruk di Kabupaten Pandeglang.



