Pandeglang, Lintasnusantara.net
Insiden pertama terjadi pada pertandingan Glatik FC melawan Dara Sakti 2 saat babak adu penalti. Video yang memperlihatkan kericuhan pada momen tersebut beredar luas di media sosial dan menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Sehari berselang, pada Senin (3/8/2026), pertandingan Ciburial melawan Smanli kembali diwarnai kericuhan. Berdasarkan video yang beredar, wasit terlihat berada di tengah kerumunan sebelum kemudian diamankan oleh aparat keamanan. Beredar pula informasi adanya dugaan tindakan kekerasan terhadap wasit. Namun, hingga berita ini diterbitkan, media ini belum memperoleh konfirmasi resmi mengenai kronologi maupun pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Pada hari yang sama, pertandingan MJM Group melawan Squad 180 juga diwarnai aksi walk out dari tim Squad 180. Berdasarkan informasi yang beredar di lapangan dan media sosial, keputusan tersebut diduga berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit. Meski demikian, alasan resmi aksi walk out tersebut masih menunggu keterangan dari pihak tim maupun penyelenggara.
Rentetan tiga insiden tersebut memunculkan berbagai komentar dari masyarakat di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan kualitas kepemimpinan wasit, bahkan ada yang menyampaikan dugaan mengenai keberpihakan maupun kompetensi perangkat pertandingan. Namun, seluruh komentar tersebut merupakan pendapat warganet dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Menanggapi situasi tersebut, seorang aktivis di Kabupaten Pandeglang mendesak Kapolres Pandeglang untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek pengamanan dan pelaksanaan turnamen.
"Kami meminta Kapolres Pandeglang segera melakukan evaluasi total. Jangan sampai menunggu jatuhnya korban jiwa baru dilakukan tindakan. Keselamatan pemain, perangkat pertandingan, ofisial, panitia, dan penonton harus menjadi prioritas utama," ujarnya.
Ia juga menilai bahwa dalam berbagai pertandingan sepak bola, wasit kerap menjadi sasaran kemarahan ketika muncul perbedaan penilaian di lapangan. Oleh karena itu, menurutnya, sistem pengamanan terhadap perangkat pertandingan perlu diperkuat agar tidak terjadi aksi main hakim sendiri.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya memperoleh tanggapan dari Kapolres Pandeglang, panitia penyelenggara PRC Gubernur Cup 2026, perangkat pertandingan, maupun pihak-pihak terkait lainnya mengenai rangkaian insiden tersebut. Berita ini akan diperbarui apabila telah diperoleh keterangan resmi.



