Haidar Alwi: IAWP 2026 Menjadi Dialektika Global Gagasan Kapolri Tentang Kepemimpinan Polwan

 



Jakarta, Lintasnusantara.net

The 63rd International Association of Women Police (IAWP) Annual Training Conference 2026 di Bali pada 20–24 September 2026 mempertemukan sekitar 450 peserta dari 43 negara dengan tema Women Leading Global Change. Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah setelah sebelumnya menjadi tuan rumah IAWP ke-58 di Labuan Bajo pada 2021. Forum ini mempertemukan pengalaman kepolisian berbagai negara dalam pengembangan kepemimpinan, profesionalisme, kolaborasi, kepercayaan masyarakat, investigasi, inovasi, teknologi kepolisian, hingga menghadapi kejahatan transnasional dan berbagai bentuk kejahatan yang memanfaatkan teknologi.


Pembukaan konferensi oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan makna yang jauh melampaui sebuah agenda internasional. Kapolri mendorong Polwan Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi, memperluas pengalaman, membangun jejaring internasional, serta mempersiapkan diri untuk mengambil peran kepemimpinan. Bagi Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, gagasan tersebut bertemu secara menarik dengan dinamika kepolisian dunia yang sedang bergerak menuju masa depan yang semakin terbuka, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan.


*“IAWP 2026 adalah dialektika global yang mempertemukan pengalaman kepolisian dari berbagai negara dengan gagasan kepemimpinan yang sedang dikembangkan Indonesia. Pesan Kapolri tentang Polwan membawa makna yang sangat luas, karena kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan proses menyiapkan manusia terbaik untuk menerima tanggung jawab yang semakin besar. Ketika pengetahuan bertemu pengalaman, dan pengalaman bertemu kesempatan untuk memimpin, maka cakrawala masa depan Polri ikut terbuka,” ujar Haidar Alwi.*


Makna dialektika tersebut terlihat dari pertemuan berbagai pengalaman kepolisian di Bali. Perbedaan sistem, budaya, tantangan keamanan, teknologi, serta karakter masyarakat tidak menjadi penghalang, tetapi menjadi sumber pembelajaran. Pengetahuan yang datang dari berbagai penjuru dunia dapat bertemu dengan pengalaman Indonesia dan melahirkan perspektif yang semakin kaya mengenai kepolisian masa depan.


*IAWP 2026 Menjadi Ruang Pertemuan Pengetahuan Kepolisian Dunia.*


Kehadiran delegasi dari 43 negara menjadikan IAWP 2026 sebagai ruang pertukaran pengetahuan dengan cakupan yang luas. Para peserta tidak hanya berbicara mengenai posisi perempuan dalam kepolisian, tetapi juga mengenai persoalan konkret yang semakin menentukan masa depan penegakan hukum, seperti perdagangan orang, kekerasan berbasis teknologi, kontra-terorisme, investigasi kompleks, transformasi teknologi kepolisian, identifikasi korban bencana, serta kejahatan transnasional terorganisasi.


Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa kepolisian modern semakin membutuhkan kemampuan untuk belajar melampaui batas institusi dan batas negara. Kejahatan dapat bergerak lintas yurisdiksi, teknologi dapat mengubah modus operandi dalam waktu singkat, sementara masyarakat semakin membutuhkan pelayanan kepolisian yang profesional, adaptif, dan mampu memahami perubahan.


Dalam konteks itu, IAWP menjadi lebih dari sekadar forum pertemuan. Ia menjadi ruang pertukaran pengalaman yang memungkinkan praktik terbaik dari berbagai negara dipelajari, didiskusikan, dan ditempatkan dalam konteks kebutuhan masing-masing. Indonesia memperoleh kesempatan untuk belajar dari dunia sekaligus memperlihatkan pengalaman Polri kepada komunitas kepolisian internasional.


Bali juga menjadi simbol penting kesinambungan tersebut. Setelah Indonesia menjadi tuan rumah IAWP ke-58 di Labuan Bajo pada 2021, kini Indonesia kembali dipercaya menyelenggarakan konferensi ke-63. Lima tahun perjalanan itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dengan komunitas kepolisian perempuan internasional terus berkembang.


*“Nilai terbesar sebuah pertemuan internasional bukan hanya pada banyaknya negara yang hadir, tetapi pada pengetahuan yang bergerak di antara manusia. Informasi dapat dibaca, tetapi pengalaman harus dipertukarkan; pengalaman dapat dipertukarkan, tetapi baru menjadi kekuatan ketika diolah menjadi kompetensi dan diwujudkan dalam tindakan. IAWP 2026 menyediakan ruang bagi seluruh proses itu, sehingga Bali menjadi tempat bertemunya pengetahuan global dengan pengalaman kepolisian Indonesia,” kata Haidar Alwi.*


Dari pertukaran pengetahuan tersebut, gagasan tentang kepemimpinan memperoleh dimensi yang semakin luas. Sebab, pengetahuan yang dikumpulkan hari ini pada akhirnya membutuhkan manusia yang mampu menerjemahkannya menjadi keputusan, inovasi, pelayanan, dan kepemimpinan pada masa mendatang.


*Kapolri Membuka Cakrawala Baru Kepemimpinan Polwan.*


Polwan Indonesia telah menjadi bagian dari perjalanan Polri sejak 1948. Saat ini, sekitar 29 ribu Polwan berada di dalam institusi yang memiliki lebih dari 450 ribu personel. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi Polwan telah berkembang dan menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi kepolisian Indonesia.


Dalam IAWP 2026, Kapolri menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari perubahan, tetapi juga dapat menjadi pemimpin perubahan. Kapolri bahkan membuka kemungkinan bahwa suatu hari Polri dapat dipimpin oleh seorang Polwan, sebagaimana sejumlah negara mitra telah memiliki perempuan dalam kepemimpinan kepolisian.


Pesan tersebut memperluas cara pandang mengenai karier Polwan. Kepemimpinan tidak semata-mata menunggu seseorang menduduki jabatan tertentu, tetapi dibangun jauh sebelumnya melalui pendidikan, pengalaman, kompetensi, integritas, kemampuan mengambil keputusan, penguasaan teknologi, jejaring, dan kesempatan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.


Karena itu, pengembangan Polwan pada hakikatnya merupakan bagian dari regenerasi Polri. Setiap Polwan yang memperkuat kompetensi, memperluas pengalaman, dan memperoleh kesempatan memimpin sedang menambah kekayaan sumber daya kepemimpinan institusi. Semakin banyak talenta yang dipersiapkan, semakin luas pula cakrawala masa depan yang dapat dibangun.


Kehadiran AKBP Heti Patmawati sebagai penerima IAWP Leadership Award 2026 menjadi salah satu gambaran bahwa kepemimpinan Polwan Indonesia dapat memperoleh pengakuan di tingkat internasional. Prestasi seperti itu memperlihatkan bahwa panggung kepemimpinan dapat dibangun melalui kapasitas, pengalaman, integritas, dan kontribusi nyata.


*“Kepemimpinan pada hakikatnya adalah estafet tanggung jawab. Setiap generasi menerima fondasi dari generasi sebelumnya, lalu memiliki kesempatan memperluasnya untuk generasi sesudahnya. Karena itu, ketika Kapolri membuka cakrawala bahwa Polri suatu hari dapat dipimpin seorang Polwan, yang sedang dibicarakan bukan sekadar kemungkinan sebuah jabatan, tetapi proses panjang menyiapkan manusia, membangun kompetensi, dan memastikan bahwa estafet kepemimpinan Polri selalu memiliki generasi penerus yang berkualitas,” tutur Haidar Alwi.*


Cakrawala kepemimpinan tersebut semakin menarik karena generasi Polri berikutnya akan menghadapi dunia yang jauh berbeda. Perubahan teknologi dan karakter kejahatan menuntut kepemimpinan yang tidak hanya memiliki pengalaman, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perubahan dan mengubah pengetahuan menjadi kekuatan institusi.


*Dari Dialektika Global Menuju Masa Depan Polri.*


IAWP 2026 menunjukkan bahwa masa depan kepolisian semakin ditentukan oleh kemampuan menggabungkan manusia, pengetahuan, teknologi, dan kerja sama. Kecerdasan buatan, kekerasan berbasis teknologi, perdagangan orang, kejahatan transnasional, kontra-terorisme, serta investigasi kompleks merupakan bagian dari lanskap keamanan yang membutuhkan kemampuan baru.


Dalam situasi tersebut, Polwan memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang dalam seluruh spektrum kepolisian. Kepemimpinan Polwan dapat hadir dalam investigasi, teknologi, pelayanan masyarakat, pendidikan, kerja sama internasional, pengelolaan organisasi, maupun berbagai bidang strategis lainnya.


Peluang tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Polwan tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pembangunan kapasitas Polri secara keseluruhan. Ketika Polwan memperoleh ruang untuk belajar, memimpin, berinovasi, dan berkolaborasi, institusi juga memperoleh tambahan kekuatan dalam menghadapi perubahan.


Di sinilah gagasan Kapolri menemukan konteks globalnya. Pesan tentang masa depan kepemimpinan Polwan tidak berhenti pada persoalan internal organisasi, tetapi bertemu dengan perkembangan kepolisian dunia yang semakin membutuhkan kepemimpinan inklusif, kompeten, adaptif, dan mampu membangun kerja sama lintas batas.


IAWP 2026 kemudian menjadi sebuah ruang yang mempertemukan tiga dimensi sekaligus: pengalaman masa lalu, kapasitas hari ini, dan horizon masa depan. Sejarah Polwan sejak 1948 memberikan fondasi, kompetensi generasi sekarang memberikan kekuatan, dan pengembangan kepemimpinan memberikan arah bagi perjalanan berikutnya.


*“IAWP 2026 memperlihatkan bahwa masa depan Polri dapat dibangun melalui pertemuan antara pengetahuan dan pengalaman, antara tradisi dan inovasi, serta antara generasi yang sedang mengemban tugas dengan generasi yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkannya. Ketika Polwan Indonesia berdiri bersama kepolisian dari 43 negara, ketika Kapolri membuka ruang yang semakin luas bagi mereka untuk berkembang dan memimpin, maka yang sedang berlangsung bukan hanya sebuah konferensi, melainkan dialektika global yang memperkaya perjalanan kepolisian Indonesia. Dari Bali, pengalaman dunia bertemu dengan fondasi Indonesia, dan dari pertemuan itulah lahir cakrawala baru bahwa kepemimpinan Polwan dapat menjadi bagian penting dari estafet kepemimpinan Polri dan kontribusi Indonesia terhadap perubahan kepolisian dunia,” pungkas Haidar Alwi.*



Nanang jkt

Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan

 


Iklan

 


Iklan

نموذج الاتصال