BREBES —lintas Nusantara Gedung Tua Hogwan di Jalan Lapangan Asri, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, ambruk pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Reruntuhan bangunan tersebut menimpa tiga rumah warga dan menyebabkan dua anak meninggal dunia.
Kedua korban diketahui bernama Nara (4) dan Arfa (8), anak Feti, salah satu warga yang rumahnya tertimpa material bangunan. Saat kejadian, kedua korban sedang tertidur di dalam rumah.
Koordinator Penanganan Bencana BPBD Kabupaten Brebes Posko Bumiayu, Budi Sujatmiko, mengatakan pihaknya menerima laporan dari warga terkait kemungkinan adanya korban yang masih tertimpa reruntuhan.
“Langsung sambil menunggu alat berat, kita evakuasi material sekaligus mencari kemungkinan adanya korban lain,” kata Budi di lokasi kejadian, Minggu.
Budi menjelaskan, kawasan Jalan Lapangan Asri biasanya ramai didatangi warga pada pagi hari. Jalan tersebut juga menjadi salah satu jalur yang biasa digunakan warga untuk jogging, terutama pada Minggu pagi.
Dalam proses evakuasi, tim gabungan bersama warga membersihkan material bangunan menggunakan peralatan seadanya sambil menunggu alat berat tiba. Material berupa bata, tembok, dan puing-puing bangunan yang berhasil dievakuasi kemudian dikumpulkan dan diangkut menggunakan dua dump truck.
Hingga proses evakuasi berlangsung, dua korban meninggal dunia telah ditemukan. Keduanya merupakan anak-anak yang berada di dalam rumah Feti saat Gedung Hogwan ambruk.
“Keduanya masih anak-anak. Saat kejadian sedang tertidur di dalam rumah yang tertimpa material gedung Hogwan,” ujar Budi.
Selain rumah Feti, reruntuhan Gedung Hogwan juga menimpa rumah milik Marto dan Imam. Ketiga rumah tersebut mengalami kerusakan parah akibat tertimpa material bangunan.
Petugas kepolisian kemudian memasang garis polisi di sekitar lokasi. Warga juga diminta tidak mendekati area bangunan yang runtuh karena proses pencarian dan pembersihan masih berlangsung.
Gedung Hogwan diketahui merupakan bangunan tua yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Bumiayu. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, bangunan tersebut sebelumnya merupakan bekas pabrik tepung tapioka pada masa kolonial Belanda. Dalam perkembangannya, gedung tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tempat latihan bulu tangkis.
Ambruknya bangunan tua tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan pada tiga rumah warga, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Dua anak yang masing-masing berusia 4 dan 8 tahun meninggal dunia setelah tertimpa material bangunan saat sedang tertidur.
Peristiwa ini menjadi perhatian terhadap kondisi bangunan tua di kawasan permukiman. Di satu sisi, bangunan bersejarah memiliki nilai sejarah yang perlu dijaga, namun keselamatan warga di sekitar bangunan juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
Editor Edi Purwanto




