Syarifudin menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara utuh, khususnya mengenai aspirasi masyarakat yang menjadi dasar kehadiran MDM dalam proses pemilihan BPD.
Menurutnya, seorang wakil rakyat memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat, termasuk ketika terdapat warga yang mempertanyakan hak mereka dalam proses demokrasi di tingkat desa.
“Jangankan pukul meja, nyawa pun kita pertaruhkan asalkan itu untuk bela kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi,” ujar Syarifudin Hafid, Rabu (26/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Syarifudin saat menanggapi polemik yang muncul setelah MDM mendatangi lokasi pemilihan BPD Desa Keurea. MDM sebelumnya menyampaikan bahwa kehadirannya berkaitan dengan aspirasi sejumlah warga yang mempertanyakan persoalan daftar pemilih.
Dalam proses tersebut, terjadi perdebatan antara MDM dan panitia pemilihan. MDM juga mengakui sempat memukul meja dalam situasi yang memanas dan menyatakan siap mengevaluasi sikapnya.
Syarifudin menegaskan bahwa keberpihakan kepada masyarakat harus tetap dibedakan dengan kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Yang paling penting adalah kepentingan rakyat. Jangan sampai kita menggunakan nama rakyat, tetapi sebenarnya ada kepentingan pribadi,” katanya.
Ia berharap persoalan di Desa Keurea tidak berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat. Menurutnya, seluruh pihak perlu mengedepankan komunikasi, klarifikasi serta mekanisme yang sesuai dengan aturan.
Syarifudin juga menilai keberanian seorang wakil rakyat tidak semata-mata diukur dari cara menyampaikan protes, tetapi dari sejauh mana perjuangan tersebut benar-benar ditujukan untuk kepentingan masyarakat.
“Kalau memang hak rakyat yang diperjuangkan, kita harus berani berdiri di depan. Tetapi kalau kepentingan pribadi, itu yang harus kita hindari,” tegasnya.
Ia kembali mengingatkan agar proses demokrasi di tingkat desa tetap berjalan secara tertib, transparan dan sesuai ketentuan yang berlaku.



