Merah putih berkibar gagah, Pakaian adat tampil penuh warna. Sementara hasil bumi Kabupaten Aceh Singkil disulap jadi simbol kreativitas dan pesan ketahanan pangan dalam Festival Karnaval HUT ke-81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia digelar di Lapangan Meriam Sipoli, Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Sabtu (15/8/2026).
Karnaval kali ini bukan sekadar parade kemeriahan HUT RI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi panggung rakyat untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya dan potensi pangan Kabupaten Aceh Singkil.
Dengan mengusung tagline ketahanan pangan dan komoditas lokal, para peserta tampil kreatif membawa simbol berbagai hasil bumi, mulai dari sagu, sawit, kelapa, pisang, tanaman palawija, daun sirih, nangka, lokan hingga ikan sungai.
Beragam komoditas tersebut dikemas dalam pakaian, ornamen dan atribut unik sehingga menciptakan parade yang penuh warna sekaligus sarat makna.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya Bupati Aceh Singkil H. Safriadi Oyon, Ketua DPRK Aceh Singkil H. Amaliun, Sekda Aceh Singkil Edi Widodo, Dandim 0109/Aceh Singkil, Kajari Aceh Singkil atau yang mewakili, Waka Polres Aceh Singkil, Camat Gunung Meriah Ilvi Rahmi, Kapolsek Gunung Meriah, Danramil 03 Gunung Meriah, unsur Forkopimcam serta para kepala desa Se-Kecamatan Gunung Meriah.
Ketua Panitia HUT RI ke-81 Kecamatan Gunung Meriah, Zulkarnain, S.Sos, Menyata kan bahwa tema ketahanan pangan sengaja dipilih untuk menyelaraskan semangat dari perayaan kemerdekaan dengan program nasional yang digalakkan oleh Presiden RI H. Prabowo Subianto.
“Karnaval hari ini mengangkat tema yang sesuai dengan program yang sedang di galakkan Presiden RI, khususnya terkait ketahanan pangan,” ujar Zulkarnain.
Menurutnya, setiap hasil bumi ditampilkan bukan sekadar hiasan. Dibaliknya terdapat potensi besar yang dimiliki masyarakat Aceh Singkil dan harus terus dikembangkan.
“Kita ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Aceh Singkil memiliki banyak komoditas dan hasil alam, Ini adalah kekayaan daerah yang harus kita rawat dan manfaatkan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat,” katanya.
Karnaval inipun menjadi gambaran bahwa ketahanan pangan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat tumbuh dari desa-desa, dari lahan pertanian, perkebunan, sungai, laut dan juga berbagai sumber daya alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Ditengah semarak perayaan HUT RI, terselip pesan yang jauh lebih dalam, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga tentang melanjutkan perjuangan melalui pembangunan dan kemandirian.
Aceh Singkil memiliki tanah yang subur, laut yang kaya, sungai yang menyimpan potensi perikanan serta masyarakat yang memiliki beragam keterampilan dan budaya. Semua itu adalah modal untuk membangun daerah.
Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi karnaval menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan masih hidup dan terus tumbuh. Anak-anak, generasi muda hingga masyarakat dewasa ikut menjadi bagian dari parade yang menyatukan budaya, kreativitas dan potensi daerah.
Dari Gunung Meriah, merah putih bukan hanya berkibar di udara. Ia juga berkibar dalam semangat masyarakat untuk menjaga tanah kelahiran, mengembangkan hasil bumi dan membangun Aceh Singkil yang semakin mandiri.
Karena sejatinya, bahwa kemerdekaan bukan sekadar warisan dari sejarah. Kemerdekaan adalah tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan dan mengubah kekayaan tanah kelahiran kita ini menjadi kesejahteraan bagi generasi masa depan.



