Dok : Kondisi Mobil Damkar Rimo Mogok Saat Ingin Keluar dari Pos Damkar Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, (10/09/2026)
ACEH SINGKIL, LINTAS NUSANTARA -- Dibalik sirene yang meraung saat kebakaran terjadi, ada persoalan yang kini dikeluhkan sejumlah anggota Pemadam Kebakaran di (Damkar) Rayon Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Jum'at (11/09/2026)
Mereka mengaku harus menjalankan tugas dengan kondisi armada yang sudah tua, perlengkapan keselamatan yang terbatas, serta fasilitas pos yang dinilai belum memadai.
Keluhan itu disampaikan sejumlah anggota Damkar Rayon Rimo. Menurut mereka, para anggota damkar, bahwa persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kenyamanan kerja, tetapi juga menyentuh pada aspek keselamatan petugas ketika berhadapan langsung dengan api, asap tebal, bangunan yang berpotensi roboh, serta situasi darurat lainnya.
Sejumlah persoalan yang disoroti antara lain uang SPT atau insentif sebesar Rp75.000 dan uang piket sebesar Rp100.000, selain ketersediaan alat pelindung diri (APD), dan absensi saat piket, hingga pakaian dinas lapangan (PDL).
Fasilitas Pos Damkar Rayon Rimo juga disebut masih terbatas. Anggota mengeluh kan kondisi tempat tidur dan bantal, jaringan Wi-Fi, kamar mandi atau WC, dispenser, meja dan kursi, serta ketersediaan air.
Namun, persoalan yang paling sangat dikhawatirkan adalah kondisi armada.
"Saat ini, menurut keterangan anggota, Pos Damkar Rayon Rimo hanya memiliki dua unit kendaraan operasional. Satu unit merupakan kendaraan jenis Fuso, sedangkan satu unit lainnya sedang berada dibengkel dan disebut belum kembali dalam kondisi yang baik.
Yudi, salah seorang anggota Damkar Rayon Rimo, mengatakan kondisi tersebut perlu juga mendapat perhatian serius pemerintah, terutama karena Kecamatan Gunung Meriah merupakan wilayah dengan aktivitas warga masyarakat dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi.
"Kalau boleh jujur, kedua mobil saat ini yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Dengan kondisi kita di Kecamatan Gunung Meriah yang padat penduduk, selayaknya empat unit mobil ada disini," ujar Yudi.
Menurut dia, kendaraan yang tersedia saat ini sudah tergolong tua. Bahkan, beberapa perangkat penting kendaraan pemadam, termasuk nozel dan pompa air, disebut - sebut masih menggunakan mesin Robin.
"Kondisi mobil saat ini sudah tua-tua dan sebenarnya sudah layak diganti. Nozzle dan pompa air kita masih menggunakan mesin Robin," katanya.
Selain itu, kondisi armada dinilai menjadi persoalan krusial karena Damkar dituntut bergerak cepat setiap kali menerima laporan kebakaran.
Dalam situasi seperti itu, waktu menjadi hal faktor penting. Semakin lama petugas tiba di lokasi, semakin besar juga pula potensi api meluas dan menyebabkan kerugian yang lebih besar.
Disisi lain, petugas harus memasuki situasi berbahaya dengan perlengkapan kondisi keselamatan yang semestinya mampu memberikan perlindungan maksimal.
Padahal petugas damkar bekerja ditengah risiko, mulai dari paparan panas dan asap hingga kemungkinan bangunan roboh maupun kondisi berbahaya lainnya. Karena itu, perlengkapan keselamatan ini sangat penting dalam pelaksanaan tugas," ujarnya.
Menurut anggota, ketersediaan APD tidak seharusnya dianggap sebagai fasilitas hal tambahan. APD merupakan bagian penting didalam memastikan petugas, agar dapat menjalankan tugas dengan perlindungan yang memadai.
Selain armada dan APD, persoalan biaya bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi perhatian anggota. Yudi menyebut anggaran BBM yang diterima untuk pada setiap unit kendaraan sekitar Rp200.000 per bulan. Sementara ketika terjadi insiden kebakaran, terdapat tambahan anggaran sekitar Rp100.000 per unit.
"Untuk BBM, setiap unit hanya mendapatkan biaya sekitar Rp200 ribu per bulan, ditambah Rp100 ribu saat insiden," jelas Yudi.
Ia juga menyoroti kebutuhan BBM untuk kendaraan operasional Damkar yang juga merupakan kendaraan pelat merah. Menurut nya, ketentuan penggunaan BBM nonsubsidi perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan operasional kendaraan.
Kondisi tersebut dinilai perlu dievaluasi agar keterbatasan pada anggaran BBM juga tidak menghambat mobilitas armada ketika saat petugas harus bergerak menuju pada lokasi kebakaran.
Bahkan Pos Damkar Rayon Rimo yang juga menjadi tempat anggota melaksanakan piket dan menunggu panggilan saat darurat juga dikeluhkan.
Ketersediaan tempat tidur, bantal, air, kamar mandi, dispenser, meja, kursi hingga jaringan internet disebut membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Padahal, kami petugas harus berada dalam kondisi siap siaga selama saat menjalankan piket. Para anggota berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan instansi terkait tidak hanya melihat Damkar dari sisi respons ketika kebakaran terjadi, tetapi juga harus memperhatikan kesiapan personel dan sarana pendukung sebelum petugas di terjunkan dilapangan.
Mereka meminta pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan DPRK Aceh Singkil agar melakukan evaluasi terhadap kondisi pada seluruh armada, kelengkapan APD, fasilitas Pos, kebutuhan BBM, dan berbagai kendala kebutuhan operasional dan administrasi anggota.
"Bagi petugas Damkar, kesiapsiagaan bukan sekadar persoalan memiliki kendaraan dan personel.
Ketika laporan kebakaran masuk dan sirene berbunyi, setiap detik menjadi hal sangat berharga, mereka berharap keluhan tersebut mendapat perhatian serius dan agar segera ditindaklanjuti, sehingga petugas tidak harus menghadapi risiko disaat kebakaran dengan armada tua dan fasilitas yang terbatas." Pungkasnya



